Senin, 26 September 2011

Candi Laras di Tapin


Candi Laras adalah candi berukuran kecil yang terdapat di Kecamatan Candi Laras Selatan, Tapin, Kalimantan Selatan sekitar 30 kilo meter dari Kota Rantau yang dinamakan oleh penduduk dengan sebutan Tanah Tinggi. .Lokasinya pun terletak di sebuah pematang yang dikelilingi persawahan warga sekitar. Letak candi ini tidak berada pada lokasi yang strategi dan diperkirakan merupakan candi kenegaraan dengan maksud-maksud tertentu.
Candi Laras
Candi Laras

Secara fisik, bangunannya berupa sumur tua dan terdapat beberapa batang kayu ulin besar yang berumur ratusan tahun yang tertanam tidak jauh dari sumur tersebut. Selain itu, ada dua buah batu besar yang oleh warga sekitar disebut Batu Babi.
Pada situs candi ini ditemukan potongan-potongan arca Batara Guru yang sedang memegang cupu, lembu Nandini dan Lingga, yang semuanya disimpan di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru.
Dalam kawasan yang berdekatan dengan Candi Laras, di daerah Sungai Amas terdapat arca Budha Dipankara dan batu yang bertuliskan "siddha" dengan aksara Pallawa, atau lebih lengkapnya "jaya siddha yatra" yang artinya "perjalanan ziarah yang mendapat berkat". Berdasarkan penemuan benda arkeologi, situs ini dari abad ke-8 atau ke-9. Situs purbakala Candi Laras ini diperkirakan dibangun pada 1300 Masehi oleh Jimutawahana, keturunan Dapunta Hyang dari kerajaan Sriwijaya. Jimutawahana inilah yang diperkirakan sebagai nenek moyang warga Tapin.
Kalau dilihat dari tahun berdirinya, sebenarnya Candi Laras lebih tua dari candi serupa yang ada di Amuntai yakni Candi Agung yang didirikan pada saat pemerintahan kerajaan Negara Dipa, 1350 Masehi.
Namun dari aspek pengelolaan aset sejarah, Candi Agung memiliki daya pesona yang menarik wisatawan ketimbang Candi Laras. Laiknya sebuah ladang yang tidak memiliki nilai historis, sehingga terlalu tendensius ketika situs purbakala Candi Laras ini dikatakan sebagai salah satu objek wisata sejarah di Kabupaten Tapin.
Untuk bisa sampai ke lokasi situs purbakala ini saja, pengunjung harus menggunakan sampan yang oleh warga sekitar disebut jukung atau dengan Kelotok. Sebab, tidak adanya jalan darat yang menghubungkan lokasi Candi Laras dengan desa sekitarnya. Meski sebenarnya, jarak antara situs purbakala ini dengan desa sekitar relatif dekat hanya sekitar satu kilometer.
Komentar
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Flag Counter